Blog

Menyusuri Tradisi Batik di Era Modern

November 23, 2023
4 Menit Waktu Baca

Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Indonesia tanpa menyaksikan orang-orang mengenakan batik. Meskipun kini bukan lagi pilihan utama untuk busana sehari-hari, kebanyakan orang masih memilih mengenakan pakaian tradisional ini pada hari Jumat. Kenapa hari Jumat? Alkisah, pada tahun 2009, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendorong masyarakat Indonesia untuk mengenakan batik setelah resmi masuk ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Manusia UNESCO. Peresmian status warisan budaya batik Indonesia dilakukan pada tanggal 2 Oktober 2009, yang, seperti yang dapat diduga, jatuh pada hari Jumat.

Batik dari Segi Etimologi

The origin of batik word, membatik

Asal-usul kata "batik" berasal dari "ambatik" yang artinya "kain dengan titik-titik kecil." Kata "tik" mengacu pada titik kecil, tetesan, atau pembentukan titik. Proses tradisional pembuatannya memerlukan waktu dan tenaga yang besar–makanya harganya cenderung mahal. Batik menggunakan teknik pewarnaan kain dengan lilin resisten: sebelum kain diwarnai, pola-pola "digambar" secara manual dengan lilin cair menggunakan alat yang disebut "canting" atau ditorehkan secara manual dengan blok yang dibuat secara manual. Setelah proses pewarnaan, desainnya muncul dengan kontras tajam, terutama jika pewarnaan dilakukan dengan pewarna berwarna netral seperti coklat.

Keunikannya terletak pada desain yang dimiliki setiap daerah di Indonesia. Batik biasanya mencerminkan informasi tentang kehidupan sehari-hari, flora dan fauna, serta adat istiadat setempat. Sebagai contoh, di Cirebon, motifnya seringkali menyerupai awan (Mega Mendung). Di Banten, kita dapat menemui motif Simbut, yang menyerupai daun talas. Seperti banyak kelompok etnis dan pulau yang membentuk Indonesia, batik juga bervariasi dan unik tergantung lokasi geografis di negara ini. Meskipun sering digunakan dalam acara khusus, motif-motif tradisional kembali populer dalam pakaian sehari-hari, termasuk pakaian santai, bahkan streetwear.

Memulihkan Kejayaan Silam

Youngster wearing batik in a festival

Semakin bertumbuhnya kelompok generasi muda di Indonesia yang menunjukkan ketertarikan meningkat terhadap kombinasi batik, bukan hanya dari segi motif dan desain ke dalam gaya fashion mereka. Salah satu komunitas yang mencuat di dunia maya adalah Remaja Nusantara. Mereka mengajak generasi muda Indonesia untuk kembali terhubung dengan akar budaya. Konten yang mereka sajikan menampilkan banyak pemuda Indonesia mengenakan sarung batik dengan blazer, atau mengkombinasikannya dengan sepatu bot untuk menciptakan vibe streetwear yang modis. Bahkan, mereka juga mengadakan acara untuk memberikan panduan kepada orang lain tentang cara mengenakan dan mengikat sarung batik dengan benar. Dengan berbagai cara untuk mengenakan sarung batik pada setiap kesempatan, mereka menjadi pionir dalam gerakan yang mereka namakan 'berkain' (‘kain’ berarti kain, dan sufiks 'ber' menunjukkan tindakan).

Tidak hanya itu, desain dan motif batik juga menemukan tempatnya dalam dunia mode modern. Para perancang mode mengintegrasikan motif tradisional ke dalam setelan, gaun, rok, serta aksesori seperti topi dan tas. Beberapa di antara mereka bahkan menyertakan referensi budaya lain dalam desain batik mereka. Terutama di Indonesia dan Singapura dan lahirnya cheongsam dengan sentuhan motif batik. Mengingat banyaknya komunitas Tionghoa Indonesia yang tinggal di Indonesia, berkembang pula kreativitas kolektif yang tertuang pada pakaian yang mencerminkan latar belakang etnis dan budayanya. Desain batik-cheongsam ini paling sering terlihat pada acara pertunangan, pernikahan, dan perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia.

Mengatasi Tantangan Warisan

Dengan harapan melestarikan makna dan kekayaan warisan batik, banyak fashion designer asal Indonesia mengambil tanggung jawab untuk membuat motif ini lebih mudah diakses oleh masyarakat, tetapi tetap mempertahankan sentuhan kreatif dan modern. Sejumlah merek berusaha menjadikan batik lebih fleksibel, untuk pemakaian kasual hingga formal. Tidak sampai di situ, perancang lokal juga menggali inspirasi dari kain tradisional lain, seperti tenun dan wastra lainnya. Berikut adalah beberapa koleksi siap pakai yang menarik perhatian kami.

Sejauh Mata Memandang

Merek ini menampilkan koleksi minimalis yang tetap menghormati tradisi batik Indonesia. Dengan memanfaatkan bahan seperti katun, linen, dan tencel, mereka aktif mendukung isu-isu lingkungan dengan menggunakan tekstil yang dianggap sebagai bahan sustainable. Selain itu, merek ini juga mengambil langkah ekstra dengan mengintegrasikan tekstil daur ulang ke dalam kreasinya.

BINHouse

Inovasi yang unik dari BINHouse menghadirkan nuansa sederhana dan elegan dengan sentuhan khas batik tradisional. Terinspirasi oleh siluet kebaya, BINHouse membawa elemen keceriaan baru ke dalam koleksi pakaian siap pakai mereka. Sebagian besar desainnya merupakan perpaduan harmonis antara unsur tradisional dan modern, menciptakan narasi yang memukau dan indah.

Purana

Purana, yang artinya 'tulisan kuno' dalam bahasa Sanskerta, didirikan pada tahun 2009. Mereka konsisten dengan komitmen untuk menerapkan kearifan lokal Indonesia. Bahkan, merek ini juga menggabungkan kreasi pengrajin lokal ke dalam koleksi mereka, menciptakan harmoni antara potongan fashion, pola, dan kombinasi warna yang sangat modis.

bateeq

Dirilis pada 2013, bateeq menghadirkan pendekatan yang segar dan berorientasi fashion dalam perbatikan. Koleksinya meliputi pilihan untuk laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga dekorasi rumah. Dengan sentuhan modern, bateeq menawarkan koleksi pakaian siap pakai yang timeless, terlihat dari desain gaun, kemeja, blus, dan celana yang tercipta.

Eksistensi di Panggung Internasional

Batik telah menjelajahi panggung adibusanae internasional dengan kehadirannya yang gemilang. Banyak selebriti mengenakannya di karpet merah, termasuk tokoh-tokoh terkenal seperti Bill Gates, Barack Obama, dan bahkan Beyoncé. Perancang terkenal dari negara-negara lain juga turut mengambil inspirasi batik ke dalam koleksi panggung mereka. Sebagai contoh, Duchess of Cambridge, Kate Middleton, memakai gaun batik karya perancang Belgia-Amerika Diane von Furstenberg. Angelina Jolie juga terlihat memakai gaun batik karya desainer Amerika Serikat, Nicole Miller. Beberapa perancang internasional lain yang menampilkan batik dalam karyanya meliputi Dries van Noten dari Belgia, Ek Throngprassert dari Thailand, dan Milo Milavica dari Italia.

Kate Middleton wearing batik

Tidak lagi dianggap sebagai tren masa lalu, batik kembali menjadi bagian yang tak terpisahkan dari busana sehari-hari. Dengan sentuhan para designer yang menginterpretasikan motifnya secara trendi dan modern, batik diperkirakan memiliki daya reputasi untuk waktu yang panjang. Generasi muda pun tak ketinggalan. Mereka turut mengambil inisiatif untuk merangkul kembali warisan budaya mereka dengan cara yang istimewa. Gerakan seperti 'berkain' menjadi salah satu bentuk ekspresi diri masa kini, tapi juga mengikuti jejak yang telah dilakukan oleh para leluhur negeri.

Ikuti perkembangan terbaru di bidang tekstil, garmen, dan produksi, serta segala hal terkait fashion dengan mengikuti kami di Instagram, atau gunakan resource kami di sini.

Blog dan Artikel
Artikel Terbaru

Kontak Kami

Mari Berkenalan Lebih Lanjut dengan Mengikuti Kami di Media Sosial!
Cloami HQ
Jl. Cibaligo No.149, Kota Cimahi, Jawa Barat 40533

Mari saling terhubung!

Kontak kami untuk pertanyaan dan info lebih lanjut.





    Isi detail untuk Chat sekarang

    WhatsApp Chat Now
    arrow-leftarrow-right