Gaya modest fashion mulai berkembang pada awal tahun 2000-an, mencerminkan preferensi personal yang memilih untuk menutupi diri, baik berlandaskan agama, budaya, atau alasan pribadi lainnya. Sebelumnya, mereka yang mengadopsi modest fashion seringkali menghadapi keterbatasan opsi akibat pasar yang masih relatif kecil. Namun, beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan yang signifikan dalam konsumsi item-item modest fashion. Menurut “State of the Global Islamic Economy Report” yang dirilis pada 2022, pengeluaran untuk segmen ini meningkat sebesar 5,7% pada tahun 2021, dari $279 miliar menjadi $295 miliar. Pertumbuhan ini dipicu oleh makin banyaknya konsumen yang mencari pakaian yang sejalan dengan nilai-nilai mereka, tapi tanpa mengorbankan estetika. Laporan tersebut juga memproyeksikan bahwa modest fashion akan mencapai nilai sekitar $311 miliar pada tahun 2024.

Daya Tarik di Luar Segmentasi Pasar

Gaya modest fashion tidak lagi terbatas pada pasar tersegmentasi. Louis Vuitton dan Max Mara turut memperkenalkan koleksi modest untuk Ramadan dan Idulfitri. Dengan harapan dapat menjangkau konsumen dari berbagai latar belakang budaya dan agama.

Namun, perlu diingat bahwa modest fashion tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan dan preferensi religius, tapi juga dapat dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan pilihan personal. Seiring makin bertumbuhnya minat, mereka yang menyukai busana sederhana kini juga memiliki beragam opsi merek dan desainer khusus modest fashion.

Pengaruh Global Modest Fashion

Tren ini mengalami perkembangan pesat di pasar global, terutama di negara-negara jazirah Arab, seperti Iran, Turki, dan Arab Saudi. Dalam mengenali peluang di Timur Tengah, merek-merek ternama seperti Zara dan Pull & Bear tidak mau ketinggalan untuk menghadirkan ragam produk yang dapat memenuhi selera konsumen setempat. Meskipun tidak selalu menciptakan produk modest secara khusus, merek-merek ini sangat memperhatikan strategi marketing dan pilihan produknya agar sesuai dengan preferensi konsumen yang mengutamakan aspek kesantunan tersebut.

Di sisi lain, merek-merek populer seperti Asos dan Shein turut menawarkan beragam pilihan pakaian modest kepada konsumen di pasar Barat. Koleksi-koleksi ini dirancang dengan memperhatikan potongan yang lebih panjang, leher yang lebih tinggi, dan kain yang tidak tembus pandang untuk memenuhi kriteria modest fashion. Dengan demikian, tren ini pun semakin mendominasi panggung global.

Tren Baru Pakaian Olahraga Modest

Dengan meningkatnya popularitas activewear, berkembang juga berbagai merek yang menghadirkan produk activewear dengan arah modest. Dahulu, pakaian olahraga identik dengan keterbukaan; atasan tanpa lengan, legging ketat, dan celana pendek untuk memudahkan gerakan. Setelah terjadinya pergeseran tren, brand veteran hingga yang baru lahir juga turut mengeksplorasi desain modest.

Salah satu contoh yang paling diingat adalah Nike. Pada tahun 2017 Nike memperkenalkan produk hijab pertamanya. Peluncuran produk modest ini ternyata memulai percakapan penting tentang inklusivitas di industri activewear. Pada tahun 2020, Nike lebih serius lagi mengembangkan lini produk modest, termasuk di antaranya adalah pakaian renang. Rivalnya, Adidas, tidak mau ketinggalan. Adidas berkolaborasi dengan desainer Afrika Selatan, Thebe Magugu, menciptakan koleksi produk modest activewear yang lebih lengkap, termasuk pakaian renang, pakaian lari, hingga pakaian santai.

Indonesian activewear modest fashion brand, HIA EveryWear

Di Indonesia, kita juga menyaksikan meningkatnya popularitas modest activewear. Salah satu contoh terkini adalah HIA EveryWear, merek yang masih cenderung muda. Biarpun masih terbilang muda, merek ini berkomitmen untuk menciptakan produk dengan desain yang cermat, tidak hanya memberikan kenyamanan tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri para perempuan. Peningkatan popularitas modest activewear mencerminkan perubahan dalam preferensi konsumen dan kesadaran industri terhadap kebutuhan pelanggan yang semakin beragam.

Potensi Indonesia sebagai Pusat Fashion Modest Global

Tahun 2024 menjadi tonggak bagi Indonesia untuk meraih status sebagai pusat modest fashion secara global. Demografi negara ini menjadi keunggulan utama; sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Dengan pertumbuhan populasi muslim global yang pesat, Indonesia berada di tengah pasar yang sedang berkembang pesat.

Yang tak kalah menarik perhatian adalah kemunculan merek-merek lokal modest fashion. Saat segmen ini mendapatkan momentum, bukan hanya peritel besar seperti H&M, Uniqlo, dan COTTONINK yang menjadi perhatian. Merek-merek modest fashion lokal juga diakui secara besar-besaran. Brand seperti Buttonscarves, Heaven Lights, dan This is Bendina telah berhasil membangun pangsa pasar mereka sendiri. Selain itu, lanskap gaya ini juga semakin berkembang dengan adanya pertunjukan khusus yang merayakan modest fashion, seperti Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW). Acara tahunan ini menampilkan beragam merek modest fashion lokal, dengan transaksi mencapai $20,1 juta pada perhelatan yang terakhir.

Heaven Lights at Indonesian modest fashion runway, JMFW 2024

Perjalanan Indonesia untuk menjadi pusat modest fashion global nyatanya didorong oleh kontribusi desainer dan merek lokal, bukan hanya dominasi merek internasional. Partisipasi aktif pemain lokal dan dukungan pemerintah tentu akan memberikan harapan yang cerah bagi Indonesia di panggung dunia.


Ikuti perkembangan terbaru di bidang tekstil, garmen, dan produksi, serta segala hal terkait fashion dengan mengikuti kami di Instagram, atau gunakan resource kami di sini.

Di era saat ini, fashion bukanlah sekadar apa yang kita pakai; ia juga merupakan bahasa dan alat yang memiliki kekuatan. Pengaruh fashion kini pun meluas pada isu-isu kritis. Seiring pergeseran fokus menuju masalah-masalah sosial, lingkungan, dan budaya, fashion menjadi medium penting sebagai salah satu agen perubahan secara global.

Pengaruh Fashion dalam Politik: Ungkapan Melalui Busana

Seiring berjalannya waktu, pakaian turut berevolusi menjadi wadah ekspresi politik. Mulai dari gerakan perempuan yang mengenakan pakaian putih sebagai simbol menuntut hak pilih, hingga para demonstran yang memilih warna merah sebagai lambang perlawanan. Fashion secara visual dapat mencerminkan ideologi politik.

Anggota Black Panthers berbaris dalam sebuah pertemuan di DeFremery Park di Oakland, California.

Satu studi kasus menarik adalah Partai Black Panther, organisasi hak sipil kulit hitam yang berkembang pada 1960-an dan 1970-an. Partai ini dengan cermat menggunakan pakaian sebagai pernyataan politik dengan menggunakan seragam khas: baret hitam, jaket kulit, dan kacamata hitam. Seragam tersebut melambangkan persatuan, perlawanan terhadap ketidakadilan rasial, dan lebih jauh lagi, pemberdayaan. Tak hanya itu, seragam ini mengirimkan pesan solidaritas, serta komitmen untuk menentang rasisme sistemik dan ketidaksetaraan di Amerika Serikat.

Pengaruh Fashion pada Inklusivitas: Evolusi di Catwalk

Dunia runway memiliki sejarah kurang baik akibat kurangnya representasi yang beragam dalam hal ras, ukuran tubuh, dan identitas gender. Namun, industri ini perlahan mengalami perubahan. Banyak desainer kini aktif merepresentasikan keberagaman dengan mengikutsertakan model-model dari berbagai latar belakang ras, bentuk tubuh, dan identitas gender. Perubahan ini bukan hanya mempromosikan inklusivitas, tetapi juga menantang standar kecantikan konvensional--fashion harus bisa diakses oleh semua orang, tanpa memandang penampilan atau identitas yang melekat.

Contoh yang menarik adalah merek lingerie Rihanna, Savage x Fenty. Sejak pertunjukan fashion pertamanya pada 2018, merek ini memperoleh pujian karena komitmennya yang kuat terhadap inklusivitas di atas catwalk. Mereka menampilkan model-model dari berbagai etnis, ukuran tubuh, dan identitas gender, merayakan keberagaman dengan mengguncang norma yang sudah ada, terutama standar kecantikan tradisional. Savage x Fenty menyampaikan pesan bahwa kecantikan tidak mengenal batasan dan menegaskan bahwa fashion harus menjadi panggung yang menghargai dan memberdayakan setiap orang.

Pengaruh Fashion terhadap Konsumsi yang Etis

Konsumen modern semakin bijak dalam memutuskan pilihan sandangnya. Munculnya tren fashion yang beretika dan gerakan slow fashion mendorong individu untuk merenungkan dampak pembeliannya terhadap pekerja, lingkungan, dan masyarakat. Dengan mendukung merek yang mementingkan upah yang adil, kondisi kerja yang aman, dan bahan yang ramah lingkungan, konsumen secara aktif menyuarakan prinsip-prinsip mereka dan menyampaikan pesan yang tegas: industri fashion harus mementingkan transparansi dan akuntabilitas.

Patagonia menjadi contoh nyata dalam mendukung konsumsi yang etis. Pada tahun 2011, Patagonia meluncurkan kampanye yang provokatif berjudul "Don't Buy This Jacket". Alih-alih mendorong konsumerisme yang gegabah, kampanye ini mengajak konsumen untuk merenungkan dampak lingkungan dari pembelian mereka, dan membeli hanya apa yang benar-benar diperlukan. Langkah berani ini menegaskan komitmen Patagonia terhadap konsumsi yang etis dan tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Inisiatif ini mendorong bukan hanya konsumennya, tapi juga merek-merek lain untuk mengevaluasi kebiasaan belanja mereka dan memilih kualitas dan daya tahan, daripada mengikuti tren fashion sekali pakai.

Pengaruh Aktivisme Selebriti dalam Dunia Fashion

Selebriti memiliki dampak besar dalam dunia fashion. Mengetahui hal ini, banyak dari mereka yang memanfaatkan platformnya untuk mendukung berbagai isu sosial dan politik. Salah satu contohnya adalah Emma Watson, yang dikenal lewat perannya sebagai Hermione Granger dalam seri Harry Potter. Ia telah menjadi salah satu advokat utama untuk sustainable fashion. Sejalan dengan komitmennya, ia memimpin "Green Carpet Challenge" yang bekerja sama dengan Eco-Age, konsultan fashion dengan fokus di bidang lingkungan.

Dalam inisiatif ini, Emma Watson secara aktif mengenakan gaun ramah lingkungan yang juga diproduksi secara beretika ke acara-acara prestisius seperti Met Gala. Pilihan pakaiannya menarik perhatian media secara signifikan, menyoroti pentingnya aspek sustainable dalam industri ini. Dedikasinya terhadap fashion yang beretika telah menciptakan jejak yang tak terhapuskan, memengaruhi baik para perancang maupun konsumennya. Ini menunjukkan betapa kuat pengaruh selebriti dalam mendukung pilihan fashion yang bertanggung jawab, dan lebih lanjut mendukung perubahan positif dalam industri fashion.

Fashion adalah medium yang senantiasa berkembang. Ia mencerminkan nilai, isu terkini, hingga aspirasi masyarakat kita. Kemampuannya untuk menyampaikan isu-isu kompleks dan menginspirasi perubahan menunjukkan kekuatan besar yang dimilikinya. Baik melalui pilihan yang sustainable, pernyataan politik, apresiasi budaya, atau representasi inklusif, fashion menjadi alat yang tangguh sebagai media berekspresi. Dengan memanfaatkan kekuatan ini, setiap orang dapat membuat perbedaan yang berarti dan berkontribusi pada dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan inklusif.

Ikuti perkembangan terbaru di bidang tekstil, garmen, dan produksi, serta segala hal terkait fashion dengan mengikuti kami di Instagram, atau gunakan resource kami di sini.

Isi detail untuk Chat sekarang

WhatsApp Chat Now