Merek-merek fast fashion mendapatkan popularitas besar karena harga yang terjangkau dan koleksinya yang selalu beradaptasi. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa dampak lingkungan akibat industri fast fashion semakin nyata terlihat. Pakaian dari brand fast fashion sering dianggap sebagai barang yang dapat dengan mudah dibuang. Hal ini disebabkan oleh aspek harga yang seringkali terlalu murah yang sejalan dengan kualitas di bawah standar–yang menjadi kontributor terbesar atas persepsi tersebut.

Fenomena Fast Fashion

Fast fashion dapat dicirikan oleh proses produksi cepat pakaian murah yang mengekor tren terbaru dari catwalk. Kini, konsumen dibanjiri beragam opsi dari retail terkemuka yang terjangkau dan relatif modis. Istilah "fast fashion" diperkenalkan oleh Zara pada 1990-an untuk meningkatkan efisiensi produksi dan siklus distribusi dalam waktu 15 hari. Sejalan dengan keberhasilan efisiensi ini, terciptalah standar baru dalam industri ini.

Siklus yang cepat dalam merancang, memproduksi, dan mendistribusikan pakaian-pakaian ini memungkinkan brand untuk menyajikan beragam produk melalui produksi massal. Oleh karena itu, daya tariknya bagi konsumen ritel adalah kecepatan, harga yang terjangkau, dan produk yang modis. Frasa pamungkas fast fashion, "lead time",  mencerminkan efisiensi supply chain. Lead time ini bervariasi tergantung merek-mereknya; beberapa bahkan mampu memproduksi artikel baru dalam waktu hanya dua minggu. Namun tentunya, lead time yang lebih singkat turut berkontribusi pada peningkatan limbah dalam industri ini.

Polusi Fashion

Laporan Quantis International tahun 2018 mengidentifikasi kontributor utama terhadap polusi dalam industri fashion, yaitu pewarnaan dan finishing (36%), produksi benang (28%), dan produksi serat (15%).
Produksi serat, khususnya penanaman kapas, berdampak signifikan pada penggunaan air berlebihan dan penurunan kualitas ekosistem secara umum. Proses-proses ini pun secara lebih lanjut bergantung pada energi fosil yang memberikan dampak terbesar terhadap penipisan sumber daya. Menurut Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, emisi yang berasal dari manufaktur tekstil diperkirakan akan meningkat sebanyak 60% pada tahun 2030.

Solusi Demi Hidup Berkelanjutan

Terlibat dalam konsep slow fashion dan menolak mengikuti setiap tren baru bisa menjadi langkah efektif untuk mengurangi dampak lingkungan. Konsumen perlu turut memahami bahwa tren seringkali bersifat sesaat, beberapa tren hanya bertahan sekitar setahun atau satu musim, dan bahkan ada yang tidak bertahan sebulan.

Pengaruh media sosial terhadap industri fashion juga mempercepat perubahan tren dengan sangat signifikan. Meskipun begitu, dampak ini juga membuka peluang untuk meningkatkan proses pengambilan keputusan yang lebih baik. Menekankan pentingnya membuat pilihan yang bertanggung jawab perlu dilakukan demi menciptakan masa depan yang berkelanjutan.


Peran pemilik brand tentunya sangat vital dalam membentuk industri fashion. Dalam usaha menekan dampak lingkungan, brand owner dapat dengan mengadopsi praktik yang lebih sustainable. Mulai dari mengeksplorasi bahan alternatif--memberikan prioritas pada opsi yang ramah lingkungan, serta merancang produk agar lebih tahan lama dan dapat didaur ulang merupakan hal yang bisa dikendalikan brand owner. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip ini, brand tidak hanya menciptakan produk, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya lanskap fashion yang lebih sadar dan ramah lingkungan, serta bertanggung jawab.


Ikuti perkembangan terbaru di bidang tekstil, garmen, dan produksi, serta segala hal terkait fashion dengan mengikuti kami di Instagram, atau gunakan resource kami di sini.

Di era saat ini, fashion bukanlah sekadar apa yang kita pakai; ia juga merupakan bahasa dan alat yang memiliki kekuatan. Pengaruh fashion kini pun meluas pada isu-isu kritis. Seiring pergeseran fokus menuju masalah-masalah sosial, lingkungan, dan budaya, fashion menjadi medium penting sebagai salah satu agen perubahan secara global.

Pengaruh Fashion dalam Politik: Ungkapan Melalui Busana

Seiring berjalannya waktu, pakaian turut berevolusi menjadi wadah ekspresi politik. Mulai dari gerakan perempuan yang mengenakan pakaian putih sebagai simbol menuntut hak pilih, hingga para demonstran yang memilih warna merah sebagai lambang perlawanan. Fashion secara visual dapat mencerminkan ideologi politik.

Anggota Black Panthers berbaris dalam sebuah pertemuan di DeFremery Park di Oakland, California.

Satu studi kasus menarik adalah Partai Black Panther, organisasi hak sipil kulit hitam yang berkembang pada 1960-an dan 1970-an. Partai ini dengan cermat menggunakan pakaian sebagai pernyataan politik dengan menggunakan seragam khas: baret hitam, jaket kulit, dan kacamata hitam. Seragam tersebut melambangkan persatuan, perlawanan terhadap ketidakadilan rasial, dan lebih jauh lagi, pemberdayaan. Tak hanya itu, seragam ini mengirimkan pesan solidaritas, serta komitmen untuk menentang rasisme sistemik dan ketidaksetaraan di Amerika Serikat.

Pengaruh Fashion pada Inklusivitas: Evolusi di Catwalk

Dunia runway memiliki sejarah kurang baik akibat kurangnya representasi yang beragam dalam hal ras, ukuran tubuh, dan identitas gender. Namun, industri ini perlahan mengalami perubahan. Banyak desainer kini aktif merepresentasikan keberagaman dengan mengikutsertakan model-model dari berbagai latar belakang ras, bentuk tubuh, dan identitas gender. Perubahan ini bukan hanya mempromosikan inklusivitas, tetapi juga menantang standar kecantikan konvensional--fashion harus bisa diakses oleh semua orang, tanpa memandang penampilan atau identitas yang melekat.

Contoh yang menarik adalah merek lingerie Rihanna, Savage x Fenty. Sejak pertunjukan fashion pertamanya pada 2018, merek ini memperoleh pujian karena komitmennya yang kuat terhadap inklusivitas di atas catwalk. Mereka menampilkan model-model dari berbagai etnis, ukuran tubuh, dan identitas gender, merayakan keberagaman dengan mengguncang norma yang sudah ada, terutama standar kecantikan tradisional. Savage x Fenty menyampaikan pesan bahwa kecantikan tidak mengenal batasan dan menegaskan bahwa fashion harus menjadi panggung yang menghargai dan memberdayakan setiap orang.

Pengaruh Fashion terhadap Konsumsi yang Etis

Konsumen modern semakin bijak dalam memutuskan pilihan sandangnya. Munculnya tren fashion yang beretika dan gerakan slow fashion mendorong individu untuk merenungkan dampak pembeliannya terhadap pekerja, lingkungan, dan masyarakat. Dengan mendukung merek yang mementingkan upah yang adil, kondisi kerja yang aman, dan bahan yang ramah lingkungan, konsumen secara aktif menyuarakan prinsip-prinsip mereka dan menyampaikan pesan yang tegas: industri fashion harus mementingkan transparansi dan akuntabilitas.

Patagonia menjadi contoh nyata dalam mendukung konsumsi yang etis. Pada tahun 2011, Patagonia meluncurkan kampanye yang provokatif berjudul "Don't Buy This Jacket". Alih-alih mendorong konsumerisme yang gegabah, kampanye ini mengajak konsumen untuk merenungkan dampak lingkungan dari pembelian mereka, dan membeli hanya apa yang benar-benar diperlukan. Langkah berani ini menegaskan komitmen Patagonia terhadap konsumsi yang etis dan tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Inisiatif ini mendorong bukan hanya konsumennya, tapi juga merek-merek lain untuk mengevaluasi kebiasaan belanja mereka dan memilih kualitas dan daya tahan, daripada mengikuti tren fashion sekali pakai.

Pengaruh Aktivisme Selebriti dalam Dunia Fashion

Selebriti memiliki dampak besar dalam dunia fashion. Mengetahui hal ini, banyak dari mereka yang memanfaatkan platformnya untuk mendukung berbagai isu sosial dan politik. Salah satu contohnya adalah Emma Watson, yang dikenal lewat perannya sebagai Hermione Granger dalam seri Harry Potter. Ia telah menjadi salah satu advokat utama untuk sustainable fashion. Sejalan dengan komitmennya, ia memimpin "Green Carpet Challenge" yang bekerja sama dengan Eco-Age, konsultan fashion dengan fokus di bidang lingkungan.

Dalam inisiatif ini, Emma Watson secara aktif mengenakan gaun ramah lingkungan yang juga diproduksi secara beretika ke acara-acara prestisius seperti Met Gala. Pilihan pakaiannya menarik perhatian media secara signifikan, menyoroti pentingnya aspek sustainable dalam industri ini. Dedikasinya terhadap fashion yang beretika telah menciptakan jejak yang tak terhapuskan, memengaruhi baik para perancang maupun konsumennya. Ini menunjukkan betapa kuat pengaruh selebriti dalam mendukung pilihan fashion yang bertanggung jawab, dan lebih lanjut mendukung perubahan positif dalam industri fashion.

Fashion adalah medium yang senantiasa berkembang. Ia mencerminkan nilai, isu terkini, hingga aspirasi masyarakat kita. Kemampuannya untuk menyampaikan isu-isu kompleks dan menginspirasi perubahan menunjukkan kekuatan besar yang dimilikinya. Baik melalui pilihan yang sustainable, pernyataan politik, apresiasi budaya, atau representasi inklusif, fashion menjadi alat yang tangguh sebagai media berekspresi. Dengan memanfaatkan kekuatan ini, setiap orang dapat membuat perbedaan yang berarti dan berkontribusi pada dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan inklusif.

Ikuti perkembangan terbaru di bidang tekstil, garmen, dan produksi, serta segala hal terkait fashion dengan mengikuti kami di Instagram, atau gunakan resource kami di sini.

Isi detail untuk Chat sekarang

WhatsApp Chat Now